WARTA

Dua WBP Langsungkan Pernikahan di Lapas Bontang

BONTANG – Cinta dapat masuk, bahkan ke tempat air yang tidak dapat merembes. Mungkin itulah pepatah yang dipegang Dwi Tito Setiawan (32), saat mempersunting kekasihnya, Ratna Umar (31) dari balik jeruji besi tahanan . Mereka merupakan Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas IIA Bontang.

Bagi Dwi , Jeruji besi bukanlah penghalang untuk menikahi wanita yang dicintainya. Pernikahan itu pun direstui oleh seluruh petugas Lapas Kelas IIA Bontang yang digelar di Musala disaksikan Kasi Bimbingan Narapidana Dan Anak Didik (Binadik) Riza Mardani, Sarifuddin Kasubsi Bimbingan Pemasyarakatan dan Perawatan (Bimaswat).

Kendati dilangsungkan dalam tahanan, pernikahan kedua sejoli tak kehilangan rasa hidmat dari keluarga masing-masing. Meskipun ayah kandung mempelai wanita mewakilkan kepada wali hakim yakni penghulu Muhammad Nurdin KUA Muara Wahau melalui Video Call Whatsapp.

Belasan orang yang hadir tampak tenang mendengarkan janji pernikahan dan ijab kabul yang diucapkan Dwi di depan penghulu yang didatangkan dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan  Wahau tersebut.

“Saya terima nikah dan kawinnya Ratna Umar dengan maskawin 4 gram emas dibayar tunai,”ucap Dwi dengan menggunakan satu nafas.

Dwi mengaku sudah lama mengenal Ratna, sejak keduanya belum menjadi WBP. Ia kemudian divonis hukuman 6 tahun 2 bulan, terhitung masuk bui sejak 2017 lalu. Sementara Ratna termasuk baru menjalani hukuman, bahkan, vonis pidananya belum selesai.
“Ini bukti bahwa rasa cinta dan sayang saya kepada Ratna, makanya saya mau menikahinya,”sebutnya.

Kedekatannya dengan Ratna baru terjalin di awal 2021. Padahal, Ratna sudah mendekam di balik jeruji besi sejak 2020. Dari situ, Dwi langsung memohon restu dan izin kepada kedua orang tua Ratna melalui telepon yang difasilitasi oleh Lapas Bontang.

Sementara Ratna menerima pinangan Dwi lantaran sikap sabarnya. Menurutnya, tak pernah marah meskipun dirinya sering mengomelinya.

“Gak pernah marah. Maskipun saya omelin terus,” imbuhnya.

Meski telah halal menjadi sepasang suami istri, keduanya harus saling menahan. Pasalnya, Lapas Bontang tidak dapat memfasilitasi untuk hubungan badan warga binaan. Hal ini disampaikan Kasi Binadik Riza Mardani.

Riza Mardani mengatakan pernikahan merupakan salah satu hak bagi warga binaan. Proses pernikahan akan diberikan apabila seluruh persyaratan telah dipenuhi bagi mereka yang ingin melangsungkan akad di Lapas kelas IIA Bontang.

“Kami fasilitasi saja. Semuanya berhak. Tetapi dengan memenuhi semua persyaratan yang ada,” ungkapnya.

Dalam proses pernikahan tersebut menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button