MEREKA

Menepis Kerinduan, Mengikis Kenangan,dan Menerbangkan Impian

Berusia 27 di 2020. Berbagai masalah cinta pernah dihadapi. Dari pasangan yang cerewet, pendiam, overprotektif hingga bebas, sebebas-bebasnya. Tiga tahun memilih sendiri, lantaran perempuan yang diidamkan tidak ingin memiliki hubungan.

Fokus kuliah dan ingin membahagiakan orangtua. Dalihnya 2017 silam. Alasan yang bisa aku terima. Pasalnya, argumen tersebut sesuai dengan realitas yang ada.

Memory itu tersimpan rapat. Semua tersusun rapi. Tidak ada yang terlupa hingga saat ini. Cafe pinggir sungai di tengah kota Tepian. Berteman laptop dan buku. Secangkir kopi arabika dan coklat panas.

Ditambah roti bakar yang terbelah empat di atas nampan kayu berwarna coklat muda. Semua pesanan itu tertata rapi diatas meja. Terlihat estetik karena didukung meja yang terbuat dari kayu pula.

Angin semilir bertiup. Asap rokok dari pengunjung lain ikut terbawa. Waktu itu aku tak berani menyalakan tembakau yang terselip di selah-selah barang dalam tas hitam. Alasannya sederhana, aku tak ingin menyakiti orang yang membuatku jatuh hati. Hanya ingin paru-parunya lebih bagus. Agar kelak anakku dapat ditemaninya lebih lama.

Suasana malam itu sangat mendukung. Nada-nada yang disusun oleh salah satu band indie yang tengah naik daun membuatku waktu seakan berjalan pelan. Pemilihan lampu berwarna kuning mendukung.

Seakan dunia milik berdua. Dinding yang terbuat bata merah tanpa lapisan. Serta pagar pembatas ruang private (meeting) dari kayu. Dan rak buku berbentuk segitiga seolah membuat kami benar-benar terasa dalam sebuah adegan film romantis.

Aku tepat di depanmu. Menunggumu menyelesaikan proposal penelitian. Kurelakan waktuku habis hanya untuk menunggu. Bukan kali ini saja. Sampai kau jadi milikku.

Melihatmu yang serius mengotak-atik bait-bait kata agar tidak salah ketika mengajukan ke dosen pembimbing. Sesekali kau bertanya, kata sambung apa yang tepat. Kalimat apa yang bagus. Aku mendengarkan itu. Namun, pertanyaan kadang tanpa jawaban.

“Hai, coba lihat pria yang ada di depanmu ini. Lihat!. Aku tidak ingin melepaskanmu untuk orang lain. Aku ingin mempersuntingmu kelak. Aku ingin kau menjadi pendamping dan mengajari anak-anakku”.

Semua kata itu hanya tersimpan dalam hati. Aku tidak begitu berani untuk mengatakannya. Menyadari diri, kita masih duduk di bangku kuliah dengan jurusan yang sama. Hanya berbeda siapa yang lebih dulu menginjak kaki di universitas.

Tiga tahun lamanya, aku masih menyimpan memori dan perasaan sama. Awal tahun lalu, orang-orang tengah gabut dengan adanya wabah yang masuk ke Indonesia. Aku dengan gagah tidak menghiraukan. Sebab, bertepatan dengan kabar itu, lamaranku kau terima.

Sangat matang-matang aku pikirkan semua. Menyusun rencana untuk menemui orangtuamu guna mengukuhkan niat. Sayang, lantaran Corona yang tengah menjadi perbincangan membuat kita harus menunda.

Namun, sedikit demi sedikit kau mulai mengenalkanku dengan seluruh elemen keluargamu. Yang ku syukurkan dari itu, tidak ada satupun dari mereka yang menolak. Aku percaya ketika kita berpegang teguh pada pencipta, dunia dan seisinya akan mendukung dengan kekuatannya.

Hari-hari terus berlalu, rencana kita semakin matang. Menyusun rencana-rencana, tujuan dan alasan berumah tangga. Hingga hal-hal kecil terus kita diskusikan. Bahkan, konsep pernikahan kita nantinya.

Sayang, kebahagiaan itu sirna. Jalan yang telah kita sepakati harus bubar lantaran keinginan untuk tinggal yang berbeda. Kau memilih tetap bersama orangtua dan aku memilih ingin membawamu.

Sempat kita berunding dan mencoba mencari celah bagaimana baiknya. Tapi, keputusan untuk berpisah memang jalan yang terbaik. Untukmu, bukan untukku.

Aku tak ingin berkeras hati. Aku lebih tidak enak hati jika kau melakukan semua dengan tidak ikhlas hati. Aku menerima keputusan itu.

Beberapa bulan setelah kepergianmu. Aku mendapatkan kabar bahagia darimu. Kau dipersunting pria yang mungkin kau kenal. Sedikit aku menelusuri, latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) kalian sama.

Aku akan mendukung keputusan itu. Aku harap pria yang menjadi pilihanmu lebih baik dariku. Aku menyadari bahwa terkadang keindahan diciptakan bukan untuk dimiliki. Hanya cukup dilihat lalu disyukuri dan dikagumi.

Penulis : Farezza Afia Rohmatul Firdaus.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button