MEREKA

Hitam Kelam Penurun Syahwat

Hari itu, 10 Desember 2020 keceriaanku tak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Namun, pada malam pergantian hari, rasa sesal itu membekas dalam jiwa. Peristiwa yang tak direncanakan terjadi tanpa kesadaran. “Lemah” kata itu terngiang-ngiang di kepala.

***

Membuka mata, meraba kasur yang berukuran 1×2 meter. Handphone (Hp) seribu umat ini kuat menahan berat badanku yang kini menginjak 80 kg. Smartphone seharga Rp 1,5 juta itu mengganjal di belahan pantat.

Cukup lama aku terpaku menatap isi media sosial yang penuh dengan kebusukan. Sajian kata sindiran, motivasi cinta dan kata-kata romantis serta adegan tragis pahitnya kehidupan ramai diunggah warganet. Dari story hingga postingan telah terjelajah satu demi satu. Sudah hal umum di zaman modern ini. Tidak ada tempat cerita selain di media sosial.

Kini semua kalangan telah tereduksi akan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diketahui banyak orang. Tapi tetap saja diunggah. Ah, aku harus memakluminya, dunia 4.0 akan terus berkembang.

Hari itu, semua berjalan normal, dari bersih-bersih rumah hingga pekerjaan pun telah usai. Pukul 16.30 Wita, aku telah sampai di rumah. Beberapa teman telah menunggu. Maklum, tempat yang aku tinggali menjadi basecamp mereka. Untuk menghilangkan lelah, aku merebahkan diri di hammock (ayunan) dengan menonton film lucu. Ya, lagi-lagi di media sosial nontonnya. Aku pun tereduksi untuk menikmati zaman digitalisasi.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tukang bakso yang biasa lewat sebagai penanda datangnya Magrib pun menyapa. “Bakso lek,” katanya dari jauh sambil mendorong gerobak birunya.

Aku memalingkan wajah dan meninggalkan senyum sebagai penanda bahwa aku sedang tidak menginginkannya. Setelahnya, tak sengaja aku membuka aplikasi berwarna hijau dengan iklan wanita-wanita bohay yang sering nampang di dua maya. Disana aku menemukannya. Kupu-kupu digital itu menawan. Menarik mata. Dengan trik yang diajarkan kawan, aku beranikan diri menawar.

Setelah chatting yang panjang untuk negosiasi, hingga berujung deal pun terjadi. Namun, aku ragu, karena ini pertama kalinya bagiku. Seluruh perasaanku berkecamuk. Antara berangkat atau tidak.

Aku ingin mencicipi dunia malam. Yang kata orang nyaman. Tapi, malaikat dan setan tengah asik bernegosiasi dalam batin. Ah, kali ini biarlah setan yang menang. Ditambah uang tabunganku yang masih banyak. Ya itung-itung menghilangkan lelah dan memberi sedikit penghargaan. Ditambah, aku pun lelah menghadapi kenyataan yang belum bisa dibanggakan.

Sebagai persiapan, aku ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan menghilangkan bau keringat yang menempel. Setelah semua wangi, dan terlihat tampan. Aku berangkat ke lokasi yang dijanjikan. Namun, setelah tiba di tempat. Batinku kembali bertengkar hebat. Lagi-lagi jiwa yang penasaran pun menang.

Aku memberanikan diri. Aku langsung masuk. Dia menyambut. Diiringi sapaan lembut. Mataku terbelalak melihatnya. Dia kembali menawariku. “Ah sudahlah” aku mengaku kalah.

Pelayan itu menawari menu favorit di tempatnya. Aku memesan. Aku menyapa kawan yang lebih dulu datang. Foto kopi yang dia kirim membuatku jatuh hati. Maklum, aku tidak bisa menahan hasrat untuk menikmati. Kopi memang membuatku birahi.

“Sok atuh, lanjutkan nulisnya,” ucapnya menyapaku sambil menunjukan kursi.

“Hehe paham ya. Aku kasian saja melihatmu sendirian apa lagi calon yang kau dukung kalah” balasku sambil mengejek.

Dia terdiam, aku kembali menulis. Maklum pekerjaanku menumpuk seusai Pilkada 2020. Tak lama, kopi dan makanan ringan yang ku pesan datang. Menikmati kopi ditemani kawan yang tengah patah arang.

Penulis Reza

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button